SUMBU PENDEK

Mari Kita Berbicara Sumbu Pendek.


           Perkembangan teknologi yg amat luar biasa ini, memudahkan kita melakukan segala hal. Termasuk dengan komunikasi. Adanya teknologi memudahkan kita untuk saling berkomunikasi. Membagikan informasi. Dan pengetahuan. Semua kemudahan itu ternyata tidak menjadikan kita semakin Arif. Mudahnya arus informasi-komunikasi memudahkan kita mempersulit (menyakiti) orang lain. Hal ini tidak lain karena kita tidak bisa mengontrol ego (nafsu) kita diruang publik. Seenakknya komentar pedas, justifikasi negatif, menulis keluh kesah keluarga, teman, dan pekerjaan (smua hal privasinya) di ruang publik.

           Adanya teknologi canggih yang katanya 'memudahkan' komunikasi tidak begitu benar adanya. Ketika dihadapkan pada arus informasi yg datang pada seseorang akan menimbulkan banyak fenomena diantaranya mudah berkomentar. Berkomentar adalah hak siapapun, tapi berkomentar tanpa memahami isi informasi secara mendalam itu 'ngawur!'. Kita tidak memahami informasinya dan konteks mengapa informasi dibuat itu akan memperkeruh keadaan. Memperkeruh keadan komentator dengan pemberi informasi (informer), memperkeruh keadan antara pro-kontra komentator yang saling menimbulkan kebencian.
         Kemudian darisanalah datang para sumbu pendek yg memperkeruh keadaan, menebar kebencian, sok pahlawan repost ujaran kebencian, hoax, dan menjauhkan kita yg katanya sebagai bangsa yang 'ramah santun dan arif' juga diterapkan dalam bermedia. Budaya 'sambang dulur' harusnya kita terapkan dalam semangat bermedia sebagai semangat untuk klarifikasi informasi (tabayyun). Ini remeh dulur, tpi kalau dalam dunia maya saja kita tidak akur, mudah berantem, bagaimana dengan dunia dani?, maaf maksudnya dunia nyata. 😊🙏.


Mari kita menjadi warga media yang baik, cerdas dan tidak menjadi sumbu pendek!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku dan Ketiadan-ku

1 Hari 1000 Kata